Kamis, 05 April 2012

Model Pengembangan Sistem Informasi


MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

A.     PENDAHULUAN

Ada banyak macam pemodelan dalam pengembangan system informasi. Pemodelan dari pengembangan system ini berupa metode – metode, prosedur – prosedur – prosedur, konsep – konsep pekerjaan, aturan – aturan yang akan digunakan sebagai pedoman dan apa yang harus dikerjakan selama mengerjakan selama pengembangan system informasi. Tujuan dari pengembangan system informasi ini agar dapat memenuhi kebutuhan user, dilakukan tepat waktu, tidak melampaui anggaran biaya, mudah dipergunakan, mudah dipahami dan mudah dirawat.

B.     MODEL PROSES PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

SYSTEM DEVELOPMENT LIFE CYCLE (SDLC)

SDLC (System Development Life Cycle) merupakan siklus yang menggambarkan perangkat lunak yang dibangun. SDLC juga merupakan pola yang diambil untuk mengembangkan sistem perangkat lunak, yang terdiri dari tahap-tahap:
  1. Rencana (planning),
  2. Analisis (analysis),
  3. Desain (design),
  4. Implementasi (implementation),
  5. Uji coba (testing) dan
  6. Pengelolaan (maintenance). 

Dalam rekayasa perangkat lunak, konsep SDLC mendasari berbagai jenis metodologi pengembangan perangkat lunak. Metodologi-metodologi ini membentuk suatu kerangka kerja untuk perencanaan dan pengendalian pembuatan sistem informasi, yaitu proses pengembangan perangkat lunak. Terdapat 3 jenis metode siklus hidup sistem yang paling banyak digunakan, yakni: 
  1. Siklus hidup sistem tradisional (traditional system life cycle), 
Berupa definisi masalah, Studi kelayakan, Analisa, Desain, dan Implementasi.
  1. Siklus hidup menggunakan protoyping (life cycle using prototyping)
Merupakan salah satu metode siklus hidup sistem yang didasarkan pada konsep model bekerja (working model)
  1. Siklus hidup sistem orientasi objek (object-oriented system life cycle).
Dasar dari konsep obyek oriented adalah obyek, class, asosiasi dan inheritance menjadi kemudi dalam proses pembuatan dari tahap paling awal dan menyediakan dasar tunggal bagi daur hidup sistem.

Model-model yang digunakan pada Software Development Life Cycle (SDLC) yaitu:
·        MODEL WATERFALL
Merupakan model pengembangan system yang paling mudah dan paling sering digunakan. Model pengembangan ini bersifat linear dari tahap awal pengembangan system yaitu tahap perencanaan sampai tahap akhir pengembangan system yaitu tahap pemeliharaan. Tahapan berikutnya tidak akan dilaksanakan sebelum tahapan sebelumnya selesai dilaksanakan dan tidak bisa kembali atau mengulang ke tahap sebelumnya.
Tahap-tahap yang dilakukan pada model Waterfall ini digambarkan pada gambar berikut ini :

Kelebihan dan Kelemahan Waterfall
Kelebihan Model Waterfall :
1.      Merupakan model pengembangan paling handal dan paling lama digunakan.
2.      Cocok untuk system software berskala besar.
3.      Cocok untuk system software yang bersifat generic.
4.      Pengerjaan project system akan terjadwal dengan baik dan mudah dikontrol.
Kekurangan Model Waterfall :
1.      Persyaratan system harus digambarkan dengan jelas.
2.      Rincian proses harus benar-benar jelas dan tidak boleh berubah-ubah.
3.      Sulit untuk mengadaptasi jika terjadi perubahan spesifikasi pada suatu tahapan pengembangan.
·        MODEL ITERASI
Merupakan model pengembangan system yang bersifat dinamis dalam artian setiap tahapan proses pengembangan system dapat diulang jika terdapat kekurangan atau kesalahan. Setiap tahapan pengembangan system dapat dikerjakan berupa ringkasan dan tidak lengkap, namun pada akhir pengembangan akan didapatkan system yang lengkap pada pengembangan system.
Model Iterasi digambarkan sebagai berikut :

Kelebihan dan Kelemahan Model Iterasi
Kelebihan Model Iterasi :
1.      Dapat mengakomodasi jika terjadi perubahan pada tahapan pengembangan yang telah dilaksanakan.
2.      Dapat disesuaikan agar system bisa dipakai selama hidup software computer.
3.      Cocok untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak skala besar.
4.      Pengembang dan pemakai dapat lebih mudah memahami dan bereaksi terhadap resiko setiap tahapan karena system terus bekerja selama proses.
Kekurangan Model Iterasi :
1.      Hanya berlaku untuk Short-Lifetime system.
2.      Tahapan proses tidak terlihat sedang berada ditahapan mana suatu pekerjaan.
3.      Memerlukan alat ukur kemajuan secara regular.
4.      Perubahan yang sering terjadi dapat merubah struktur system.
5.      Memerlukan tenaga ahli dengan kemampuan tinggi.
Terdapat dua jenis Model Iterasi, yaitu :
1.      Model Incremental, merupakan model pengembangan system yang dipecah sehingga model pengembangannya secara increment/bertahap. Kebutuhan pengguna diprioritaskan dan prioritas tertinggi dimasukkan dalam awal increment.
Tahapan Incremental Model :
·        Requirement
·        Specification
·        Architecture

DesignTahapan-tahapan tersebut dilakukan secara berurutan. Setiap bagian yang sudah selesai dilakukan testing, dikirim ke pemakai untuk langsung dapat digunakan.

Model ini menerapkan sistem kerja yang paralel. Setelah daftar kebutuhan didapatkan dari pemakai, tim spesifikasi membuat spesifikasi untuk modul pertama. Setelah spesifikasi pertama selesai, tim desain menindak lanjuti. Tim spesifikasi sebelumnya juga langsung membuat spesifikasi untuk model kedua, dan seterusnya.

Kelebihan dan Kekurangan Model Incremental
Kelebihan Model Incremental :
1.      Penambahan kemampuan fungsional akan lebih mudah diuji, diverifikasi, dan divalidasi dandapat menurunkan biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki system.
2.      Nilai penggunaan dapat ditentukan pada setiap increament sehingga fungsionalitas sistemdisediakan lebih awal
3.      Increment awal berupa prototype untuk membantu memahami kebutuhan pada incrementberikutnya.
4.      Memiliki risiko lebih rendah terhadap keseluruhan pengembagan sistem.
5.      Prioritas tertinggi pada pelayanan sistem adalah yang paling diuji

Kekurangan Model Incremental

1.      Tiap bagian tidak dapat diintegrasikan
2.      Setiap tambahan yang dibangun harus dimasukkan kedalam struktur yang ada tanpamenurunkan kualitas dari yang telah dibangun system tersebut sampai saat ini.
3.      Penambahan staf dilakukan jika hasil incremental akan dikembangkan lebih lanjut

Model Incremental digambarkan sebagai berikut :
  1. Model Spiral, merupakan model pengembangan system yang digambarkan berupa spiral. Model spiral ini tidak merepresentasikan rangkaian tahapan dengan penelusuran balik (back-tracking), tidak ada fase-fase tahapan yang tetap seperti spesifikasi atau perancangan. Setiap untaian pada pada spiral menunjukkan fase software process. Model ini merupakan perbaikan dari model waterfall dan prototype. Mengabungkan keuntungan model air terjun dan prototype dan memasukkan analissis resiko
Beberapa hal yang dilakukan dalam Model Spiral :
1.      Mendefinisikan kebutuhan dengan sedetail mungkin
2.      Pembuatan desain untuk sistem yang baru
3.      Pembuatan prototipe dari pembuatan desain, pembuatan prototipe selanjutnya berdasarkan evaluasi prototipe sebelumnya
4.      Proses prototipe dilakukan berulang-ulang sampai customer puas
5.      Sistem dibuat berdasarkan prototipe yang memuaskan customer
6.      Sistem di tes dan dievaluasi

Kelebihan dan Kekurangan Model Spiral :
Kelebihan Model Spiral :
1.      Dapat digunakan untuk sistem yang besar
2.      Sangat cocok sebagai mekanisme mengurangi resiko
Kelemahan Model Spiral :
1.      Terlalu banyak memikirkan resiko yang akan terjadi
2.      Masih jarang digunakan
3.      Metode ini lambat dan mahal karena setiap tahapan yang dilalui harus menikutsertakan pemesan

Model Spiral ini digambarkan sebagai berikut :
·        MODEL RAPID APPLICATION DEVELOPMENT (RAD)
Merupakan model pengembangan system yang melakukan beberapa penyesuaian terhadap SDLC pada beberapa bagian sehingga lebih cepat untuk sampai ke tangan pengguna system. metodologi ini biasanya mensyaratkan beberapa teknik dan alat-alat khusus agar proses bisa cepat, misalnya melakukan sesi Joint Application Development(JAD), penggunaan alat-alat Computer Aided Software Engineering (CASE Tools), kode generator dan lain-lain.
Model RAD ini digambarkan sebagai berikut :
·        MODEL PROTOTYPING
Merupakan model pengembangan system yang proses iterative dalam pengembangan sistem dimana requirement diubah ke dalam sistem yang bekerja (working system) yang secara terus menerus diperbaiki melalui kerjasama antara user dan analis. Prototype juga bisa dibangun melalui beberapa tool pengembangan untuk menyederhanakan proses. Prototyping merupakan bentuk dari Rapid Application Development (RAD). Dalam metode ini, pengembang dan pelanggan dapat saling berinteraksi selama proses pembuatan system.
Tahapan-tahapan Prototyping
Tahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan kebutuhan
Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
2. Membangun prototyping
Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output)
3. Evaluasi protoptyping
Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan diambil. Jika tidak prototyping direvisi dengan mengulangu langkah 1, 2 , dan 3.
4. Mengkodekan sistem
Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai
5. Menguji sistem
Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box, Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.
6. Evaluasi Sistem
Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan . Jika ya, langkah 7 dilakukan; jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.
7. Menggunakan sistem
Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.

Kelebihan dan Kelemahan Prototyping
Kelebihan Prototyping adalah:
  1. Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan
  2. Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan
  3. Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem
  4. Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem
  5. Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya.
Kelemahan Prototyping adalah :
  1. Pelanggan kadang tidak melihat atau menyadari bahwa perangkat lunak yang ada belum mencantumkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan dan juga belum memikirkan kemampuan pemeliharaan untuk jangka waktu lama.
  2. Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek. Sehingga menggunakan algoritma dan bahasa pemrograman yang sederhana untuk membuat prototyping lebih cepat selesai tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa program tersebut hanya merupakan cetak biru sistem .
  3. Hubungan pelanggan dengan komputer yang disediakan mungkin tidak mencerminkan teknik perancangan yang baik

Prototyping bekerja dengan baik pada penerapan-penerapan yang berciri sebagai berikut:
  1. Resiko tinggi Yaitu untuk masalah - masalah yang tidak terstruktur dengan baik, ada perubahan yang besar dari waktu ke waktu, dan adanya persyaratan data yang tidak menentu.
  2. Interaksi pemakai penting. Sistem harus menyediakan dialog on-line antara pelanggan dan komputer.
  3. Perlunya penyelesaian yang cepat
  4. Perilaku pemakai yang sulit ditebak
  5. Sitem yang inovatif. Sistem tersebut membutuhkan cara penyelesaian masalah dan penggunaan perangkat keras yang mutakhir
6.      Perkiraan tahap penggunaan sistem yang pendek
Model Prototyping digambarkan sebagai berikut :





DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, Model Pada Software Defelopment Life Cycle, URL : http://itsum.wordpress.com/2010/09/26/model-pada-software-development-life-cycle-sdlc/, Diunduh 1 April 2012

Anonymous, Model Incremental, URL : http://www.scribd.com/dharmabolu/d/51777057-Model-Incremental, Diunduh 1 April 2012

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Prinsip – Prinsip Sistem Informasi, URL : http://lecturer.eepis-its.edu/~arna/Modul_RPL/3.%20Proses%20Software.pdf, Diunduh 1 April 2012

Proboyekti, Umi, Software Proces Model I, URL : http://lecturer.ukdw.ac.id/othie/softwareprocess.pdf, Diunduh 1 April 2012

Solihin, Firdaus, Model SDLC, URL : http://fsolihin.files.wordpress.com/2009/03/si-4-model-sdlc.pdf, Diunduh 1 April 2012

Sukamto, Rosa Ariani, System Development Life Cycle (SDLC), URL : http://www.gangsir.com/download/Minggu2-SDLC.pdf, Diunduh 1 April 2012

Udienkhusy, Kelebihan dan Kekurangan Setiap Model Pada Software Development Life Cycle, URL : http://blog.udienskhusy.com/269/kelebihan-dan-kekurangan-setiap-model-pada-software-development-life-cycle, Diunduh 1 April 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar